Jalan-jalan Solo: New Pasar Klewer dan Nyenyaknya di Masjid Ageng

In Arkian
Gulirkan

 

 

“Neng stasiun balapan,

kuto Solo seng dadi kenangan……”

 

(Stasiun Balapan Solo-Didi Kempot)

Solo atau dalam sebutan lain sering disebut dengan Surakarta, merupakan sebuah kota kecil yang terletak di sebelah timur Provinsi Jawa Tengah. Kota Solo merupakan kota yang memiliki corak kebudayaan Jawa Mataram Islam cukup kental di dalamnya. Hal ini tak lepas dari sejarah panjang eksistensi Kota Solo yang menjadi pusat peradaban Kasultanan Mataram pada abad ke 17 M.

Sejarah panjang serta kekhasan budaya Jawa yang masih dipegang erat oleh masyarakat Solo hingga kini perlahan telah menjadikan Solo sebagai kota yang patut direkomendasikan untuk berwisata. Banyak pelancong-pelancong baik dari dalam maupun luar negeri berbondong-bondong menjadikan Solo sebagai destinasi wisata.  Masih banyaknya peradaban kebudayaan yang dilestarikan disana ditengarai menjadi alasan banyak wisatawan memilih Solo.

Peradaban-peradaban kebudayan tersebut salah duanya tercermin dari aktivitas masyarakat yang masih terpusat pada area Keraton Kasultanan Surakarta yang diantaranya tercermin pada Pasar Klewer, Masjid Agung Surakarta dan kawasan Alun-Alun Utara Kasultanan Surakarta. Tiga tempat ini pun yang kemudian saya jadikan sebagai destinasi singkat saya selama setengah hari ketika berada di Kota Surakarta.

Pasar Klewer dan Relokasi Kebakaran

Pedagang Batik Pasar Klewer

Membicarakan Kota Solo tak lengkap rasanya jika kita tak membahas pula Pasar Klewer. Pasar yang terletak di sebelah barat Alun-Alun Utara Kasultanan Surakarta ini merupakan pasar tekstil terbesar di Kota Surakarta. Total lebih dari 1.400 pedagang yang tersebar dalam 2000 unit kios berbeda menggantungkan nasib perekonomian mereka melalui aktvitas jual beli di Pasar Klewer.

Selain terkenal sebagai pasar tekstil terbesar di Kota Surakarta, Pasar Klewer konon juga terkenal sebagai pusat perbelanjaan kain batik di area Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Banyak pedagang-pedagang dari luar kota yang menjadikan Pasar Klewer sebagai pasar grosir kain batik. Tak heran jika batik-batik Solo kemudian dikenal cukup luas di banyak wilayah di Indonesia.

Pasar Klewer, selain terkenal dengan batik dan tekstil nyatanya akhir-akhir ini juga dikenal sebagai pasar yang telah sukses direnovasi. Pasar Klewer yang dahulu tampak kumuh, gelap, dan saling berdesak-desakan kini tampak lebih bersih, terang, dan luas. Renovasi yang dilakukan sejak pasca kebakaran tahun 2014 telah berhasil menyulap penampilan Pasar Klewer menjadi pasar baru yang nyaman untuk dikunjungi.

Meskipun renovasi berhasil membuahkan Pasar Klewer dengan tampilan baru, namun ada banyak isu bertebaran bahwa kebakaran yang terjadi pada 2014 lalu adalah kesengajaan dari pemerintah akibat pedagang yang susah direlokasi sementara untuk renovasi pasar. Isu ini saya dengar dari teman perjalanan saya yang menemani saya sewaktu di Solo, Zulfa. Dia mengatakan bahwa dulunya sewaktu wacana renovasi digulirkan pada tahun 2014, banyak pedagang yang menolak untuk direlokasi. Padahal jika dilihat tempat relokasi yang disediakan adalah Alun-alun Utara Kesultanan Surakarta, yang notabene hanya berjarak beberapa meter dari pasar.

Area Jajanan Pasar di Pasar Klewer

Di Pasar Klewer yang terdiri dari beberapa lantai, para pedagang saling menjajakan dagangannya satu sama lain. Ada pedagang kain batik, pakaian pesta, pakaian adat, hingga pakaian-pakaian grosir yang sering kita temui di depan rumah oleh para sales-sales. Uniknya, meskipun jarak antar kios berdekatan dan mayoritas dagangan sama, tidak ada rasa saling bersaing atau ribut satu sama lain ketika ada pelanggan datang. Pelanggan akan dilayani semaksimal mungkin oleh pedagang, namun tentunya pelanggan tetap harus berani dan jeli ketika berbelanja disini. Perlu insting dan keberanian yang tinggi untuk menawar harga setiap barang dagangan yang dijual, semakin pandai kita menawar maka akan semakin ekonomis dan irit pengeluaran kita.

Masjid Ageng Keraton Surakarta dan Nyenyaknya Warga

Lain Pasar Klewer, lain pula Masjid Ageng Keraton Surakarta. Terletak tak jauh dari Pasar Klewer, tepatnya sebelah utara pasar, Masjid Ageng Keraton Surakarta berdiri gagah dengan luas 1.980 m2. Masjid Ageng Keraton Surakarta merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Solo. Masjid ini didirikan sejak tahun 1763 atau pada masa Sunan Pakubuwono III memerintah.

Bedug dan Warga yang melepas lelah dengan berbaring di pelataran Masjid Ageng Keraton Surakarta

Masjid Ageng Keraton Surakarta terbagi ke dalam empat ruang utama, yakni Serambi, Ruang Utama, Pawestren, dan Tempat Wudhu. Serambi, merupakan bagian dari masjid yang berbentuk lorong menjorok ke depan yang bagian depannya membentuk kuncung. Ruang Utama, mempunyai empat saka guru dan dua belas saka rawa, ruangan ini dilengkapi degan mihrab, maksura, dan mimbar sebagai tempat khatib saat memberikan kutbah. Ketiga adalah Pawestren, tempat salat untuk wanita sekaligus balai rapat. Terakhir adalah tempat wudhu, yang terbagi menjadi tempat wudhu khusus pria dan tempat wudhu khusus wanita.

Masjid Ageng Keraton Surakarta selain difungsikan sebagai tempat ibadah bagi umat muslim, seringkali juga digunakan sebagai tempat dilaksanakannya acara-acara keagamaan oleh keraton. Beberapa acara diantaranya yang dilakukan di Masjid Ageng Keraton adalah festival Grebeg dan festival Sekaten.

Berbincang sambil beristirahat di Masjid Ageng Keraton Surakarta

Masjid Ageng merupakan masjid yang cukup ramai dan kerap dikunjungi oleh warga, baik luar maupaun dalam kota Solo. Masjid Ageng dengan beranda depan yang cukup luas dan bersih seringkali digunakan oleh warga untuk beristirahat dari rutinitas selepas lelah bekerja. Sehingga tak heran apabila Masjid Ageng di setiap harinya menjelang siang dan hampir sore hari, selalu dipenuhi dengan warga yang entah terlelap tidur di sisi-sisi pinggir ruangan atau sekadar leyeh-leyeh lalu ngobrol satu sama lain.