Menyambut Fajar Jepara, Menyapa Senja Karimun Jawa (bag. 3)

In Renjana
Gulirkan

Angin pembawa bulir-bulir pasir menerpa saya ketika menuju hutan mangrove Karimun Jawa. Sudah tiga kali mata saya kelilipan pasir-pasir itu. Sial. Seharusnya kami disediakan helm supaya aman berkendara. Mata saya pedih menahan angin yang bergesekan dengan mata, disaat motor ini melaju dengan 50kmpj.

Meskipun merupakan pulau, rupanya Karimun Jawa cukup luas. Di tengah pulau ini menjulang bukit yang entah namanya. Dilihat dari bawah, gunung yang menjadi bagian dari Taman Nasional Karimun Jawa ini tampak masih asri dengan hutan hujannya. Ohiya, saya teringat mata pelajaran Geografi sewaktu SMA dulu, “Pulau-pulau kecil di tengah laut sejatinya adalah puncak gunung lautan. Ukurannya besar apabila diukur mulai dari dasar laut.”

Walaupun tidak banyak penduduk Karimun Jawa berkendara kesana-kemari, kondisi jalan di pulau ini sangat baik. Aspal mulus naik-turun dan berbelok serasa bagai sedang menaiki rollercoaster. Di jalan sesekali kami berpapasan dengan bule-bule yang tadinya satu kapal dengan kami. Raut wajah mereka bahagia mengendarai motor yang ukurannya cocok untuk postur pendek Asia.

Kami memasuki Jalan Soegijapranata. Rupanya di Karimun Jawa masih dapat ditemui sawah (padi). ‘Kirain semua bahan makanan diimpor dari Jepara,’ pikir saya.

***

Pepohonan bakau di kiri-kanan jalan menandakan kami telah tiba di kawasan mangrove Karimun Jawa. Berbeda dengan hutan bakau di Jawa, pepohonan bakau di Karimun Jawa lebih lebat, asri, dan sudah berukuran besar—menandakan usianya yang cukup tua. Sebuah jembatan menghubungkan dua sisi yang sebenarnya berbeda pulau ini. Apabila dilihat dari citra satelit, kedua pulau ini tampak menyatu. Dengan melewati jembatan ini, berarti kami telah memasuki kawasan Pulau Kemujan dan bukan lagi Karimun Jawa. Di pulau ini terdapat Bandara Dewadaru yang melayani wisatawan dengan penerbangan langsung dari Semarang.

Trekking di hutan mangrove bersama travelmate saya

Masih pukul tiga sore, kami tiba di hutan mangrove Karimun Jawa. Beberapa motor wisatawan terparkir di pinggir jalan dengan kunci kontak yang masih tertaut begitu saja. “Gue sebenernya males. Tapi kalo pengen pada masuk, yaudah deh nggak papa.”

Kami menyambangi papan denah diantara dua toilet yang bersebarangan dan terhubung dengan dek kayu. Denah itu menunjuk salah satu spot unik di ujung hutan magrove: anjungan sunset. Berhubung hutan mangrove ini masih sangat asri, dan kami tergiur spot sunset itu, segeralah kami membayar IDR 10.000 untuk karcis masuk kawasan Taman Nasional Karimun Jawa, dan karcis trekking hutan mangrove. Sebelum memulai trekking, kami sempatkan mengoles losion anti nyamuk di bagian kulit terbuka.

Lebatnya hutan bakau berlatar gunung

Sebenarnya waktu kunjungan kami ke hutan mangrove kurang tepat. Apabila menunggu bulan purnama, maka tanah gambut dan akar-akar bakau itu hanya terlihat ujungnya saja. Beberapa kali kami melihat ular laut menggeliat memasuki lubang-lubang berair. Dek kayu hanya berlumut di pinggirnya, menandakan wisatawan cukup banyak yang mampir kesini. Sepanjang rute trek, tersedia beberapa pos bagi yang ingin leyeh-leyeh sebelum tiba di spot yang direkomendasikan.

Matahari memang masih terik meski sudah pukul empat sore, akan tetapi tidak sepanas siang tadi. Kami tiba di ujung rute trekking. Dari dek bertap kayu ini, terbentang bakau-bakau kecil yang sedang tumbuh di atas pasir pantai yang tergenang. “Mana ujungnya?” tanya Hilda sekali lagi. “Lha ini udah di ujung treknya Hil.” Saya tahu Hilda sedikit kecewa, tetapi gardu pandang setinggi 3 tingkat itu menarik perhatian kami. ‘Mungkin kita bisa lihat sekeliling dari gardu itu,’ pikir saya.

Gardu pandang hutan mangrove Karimun Jawa dengan tiga tingkatan

Menakjubkan. Pemandangan yang disajikan dari gardu pandang ini luar biasa. Di sebelah selatan, hamparan bakau rimbun berlatar gunung menjulang. Di utara dan barat, gugus-gugus kecil bakau baru dengan latar laut menyilaukan. Kami duduk di gardu teratas ini, sembari menikmati hembusan angin segar dari laut.

Duh, andai bisa berlama-lama disini.

Sepuluh-lima belas menit berlalu. Matahari sudah tidak lagi menyengat. Kami segera menuju ke pantai tersembunyi yang kata mas-mas tukang parkir bikin apes di Bukit Love, “Spot sunset terbaik disini.”

“Udah jam 16.40 aja. Hayuk buru ke pantainya.”

Tanpa basa-basi, kami segera keluar hutan mangrove mengikuti trek yang memutar ini. Lebatnya hutan mangrove dan dinginnya hawa di dalamnya membuat suasana sedikit ngeri, apalagi kalau kami lebih sore lagi keluarnya.

Jadi PJS (penanggungjawab sementara) pacar orang, hehe

Tiba di tempat parkir, langsung saja kami memacu motor dengan kecepatan 40-50 kilometer per jam (kmpj). Saya memimpin di depan dengan membonceng Hilda yang menjadi navigator kami. Beruntung, saya sudah jauh-jauh hari menyimpan peta Karimun Jawa dan sekitarnya secara luring di Google Maps, jadi tidak perlu khawatir kalau nyasar, atau kehilangan arah. Di belakang kami, ada Hero dan Lintang, lalu Bowo sendiri.

Semakin sore, kapal-kapal nelayan mulai bersandar. Kami melewati jalan yang sama dengan tadi siang. Alangkah terkejut saya di tikungan bergelombang ada dua ekor kambing dengan santainya duduk bersila di tengah jalan.

Tak lama, kami tiba di tujuan terakhir dalam itinerary hari ini: pantai Ujung Gelam. Oh iya, di ujung barat pulau Karimun Jawa, ada dua pantai yang wajib dikunjungi disaat sunset: pantai Ujung Gelam, dan pantai Batu Topeng. Ketiganya adalah hidden beach yang letaknya berdekatan dan untuk berpindah ke pantai lainnya cukup dengan jalan kaki. Satu kabar gembira untuk kita semua, masuknya gratis.

Jepret!

Ramai. Bowo, sedari tadi sibuk jadi tukang potretnya Hilda. “Sesekali aja elah.” Lalu Hero dan Lintang hanya duduk-duduk manja di bawah pohon kelapa. Bule-bule menggelar matras dan tanning sejak siang tadi, wisatawan lokal duduk-duduk di warung sambil menyerut daging kelapa muda, para kapten kapal dengan ramahnya jadi juru foto dadakan. “Harusnya tadi siap baju ganti ya tau gini. Pengen nyebur gue,” gerutu saya sambil menginjak-injakkan kaki pada pasir-pasir yang halusnya melebihi tepung terigu.

Sunset dari Pantai Ujung Gelam (Foto: Arif Wahyu Wibowo)

Berlanjut ke pos berikutnya …