Menyepi di Coban Rais, Menepi dari Hiruk Pikuk Malang Raya

In Arkian
Gulirkan

Malang dari hari ke hari seolah semakin sesak dengan lalu lalang manusia dan urusannya. Lampu lalu lintas dan kendaraan menjadi bagian hidup yang tak bisa dilepaskan. Sesak, panas, dan keringat menjadi gambaran Malang kala siang maupun malam hari. Di tengah sesak dan hiruk pikuk tersebut untungnya Malang memiliki segudang tempat rekreasi yang mampu menjadi penawar penatnya kepadatan kota.

Selasa (2/8/2017), tepat pukul tiga dini hari, alarm berbunyi membangunkan saya dari lelapnya tidur malam. Pagi itu adalah pagi yang dingin. Teramat dingin hingga air di kamar mandi rumah saya pun seolah terasa seperti air lelehan es. Berat rasanya untuk sekadar membasuh muka dengan air tersebut. Namun, mau tidak mau saya harus membasuh seluruh badan dengan air yang serasa menusuk-nusuk tulang.

Gelap kian larut berganti fajar yang mulai nampak di ufuk timur untuk kemudian berubah dengan datangnya terang sinar matahari. Saya dan ketiga teman telah bersiap untuk menuju Malang. Tepat pukul empat pagi kami sudah menginjak gas mobil untuk menuju Kota Apel. Menempuh perjalanan melalui jalur selatan, melewati Ponorogo, Trenggalek, lalu Blitar kemudian Tulungagung, tepat kurang lebih setengah sembilan pagi kami sampai di Bumi Arema.

Cuaca Malang hari itu nampak cukup bersahabat. Meskipun sepanjang perjalanan dari Ponorogo hingga Blitar diguyur oleh gerimis hujan. Di Malang kami sudah ditunggu salah satu kawan kami yang telah siap menjadi tour guide hari itu untuk berkeliling Malang Raya. Malang hari itu terasa padat oleh keramaian massa, persepsi dingin yang dulu sering diceritakan tentang Malang kini berubah menjadi panas yang menyengat.

Destinasi pertama kami adalah Coban Rais. Air terjun yang menurut referensi teman saya merupakan objek wisata yang tengah viral di anak muda Malang.

“Coba deloken neng instagram @malang_mbois, goleko air terjun seng enek taman-tamane ndang (Coba kamu lihat di Instagram @malang_mbois, cari air terjun yang ada taman-tamannya)” pinta teman saya si super guide plus sopir handal Candra.

Wisatawan berjalan-jalan di area wisata Coban Rais.

Coban Rais terletak di Malang Utara, kurang lebih satu setengah jam dari pusat kota dengan mobil. Coban Rais, selain merupakan air terjun, ternyata juga memiliki berbagai wahana wisata lain yang turut memanjakan para wisatawan. Berlokasi di antara perbukitan yang rimbun dengan pepohonan pinus, Coban rais disulap menjadi wana wisata keluarga yang tak sekadar menyediakan petualangan setengah hiking, kala menuju air terjun, namun juga nuansa menyenangkan melalui  wahana permainan keluarga macam flying fox, kolam ikan, dan taman-taman cantik serta wahana lainnya yang tersedia.

Berbekal uang seratus ribu rupiah, kami berhasil masuk ke obyek wisata Coban Rais dengan tentunya kembalian sebesar empat puluh ribu rupiah.  Bea masuk Coban Rais bagi masing-masing wisatawan bertarif Rp.10.000,- / orang, karena kami membawa kendaraan roda empat, kami pun juga diminta untuk membayar retribusi parkir sebesar sama dengan tarif masuk wisatawan.

“Akhire teko cah, untung Iqbal ra mutah-mutah neng dalan (Akhirnya sampai juga, untung Iqbal gak muntah tadi)” sahut teman saya yang suka bercanda Piyan.

Wisatawan berfoto di Bukit Bunga.

Tawa pun pecah menyambut apa yang dikatakan oleh teman saya. Maklum, salah satu dari teman saya merupakan pemabuk berat (bukan dalam konotasi yang negatif tentunya) ketika menumpang roda empat.

Untuk bisa menuju coban atau air terjun, wisatawan wajib berjalan kaki menempuh jalur setengah pendakian sepanjang satu kilometer. Pemandangan sepanjang jalur menuju coban kala itu cukup indah, pepohonan pinus serta landskap perbukitan di sebelah kanan dan kiri menjadi penyejuk mata. Sayangnya, keindahan tersebut tak diikuti dengan kepedulian wisatawan untuk menjaga kebersihan tempat. Akibatnya jalur yang harusnya steril dari sampah-sampah plastik atau rumah tangga pun tercemari dan membuat tidak nyaman wisatawan.

Kami berlima pada saat itu memilih untuk menggunakan jalur bawah ketika menuju coban. Perjalanan kami pun jauh lebih panjang dan sepanjang perjalanan kami selalu ditemani oleh aliran air sungai yang bersumber dari coban. Perjalanan kami mulai tepat pukul 12 tengah hari setelah kami puas berswa foto di wahana wisata coban rais sebelumnya. Di tengah perjalanan kami juga sempat berpapasan dengan beberapa wisatawan lain yang kala itu tengah turun dari coban.

Siap mengantar wisatawan (re: Tukang Ojek).

Perjalanan menuju Coban Rais kala itu cukup melelahkan karena kami harus mendaki perbukitan yang sebelumnya tidak terprediksi oleh kami. Perjalanan yang berlangsung hampir satu jam tersebut sesekali kami hentikan untuk sekadar melepaskan dahaga atau mengusap keringat di muka.

Berhubung karena kami mendaki sudah masuk jam makan siang maka perjalanan pun tergolong sepi sepanjang rute menuju Coban Rais, menurut pernyataan beberapa pendaki yang kami temui dan sampaikan pertanyaan. Meskipun pada awalnya kami merasa agak khawatir karena kondisi sepi ditambah takut akan terjadi apa-apa (misal longsor karena daerahnya perbukitan), kami tetap melanjutkan perjalanan hingga sampai coban.

Coban Rais.

Perjalanan pun akhirnya sampai pada Coban Rais. Rasa lelah, lemas, dan panas yang dirasakan selama perjalanan akhirnya terbayar tuntas oleh indahnya Coban Rais. Gemericik suara air yang jatuh menimpa bebatuan dan kayu-kayu pohon tumbag begitu terasa begitu mendalam. Penat, duka, tawa, bahagia seolah bercampur menjadi satu larut dalam derasnya aliran air yang mengalir.

Kami berempat kala itu mengambil tempat-tempat terbaik untuk kami mengabadikan momen. Selebihnya kami larut dalam suasana menyepi, menepi dan mungkin introspeksi yang kami lakukan sendiri-sendiri.

Peta Coban Rais: