Menyambut Fajar Jepara, Menyapa Senja Karimun Jawa (bag. 2)

In Renjana
Gulirkan

Saya mengusap liur yang menjuntai bebas di pipi kanan. Lamanya penyeberangan sejauh 80 kilometer ini mencapai empat setengah jam. Lumayan bagi saya yang tadi malam begadang menunggui barang bawaan. Beberapa turis mancanegara alias bule hilir-mudik ke kantin kapal, beberapa ada yang memesan Pop Mie seduh dengan aroma bumbu yang menyeruak ke penjuru kapal, atau sekadar ngemil Chitato yang tersedia di etalase.

Bowo, Hilda, juga Wildan dan Lintang masih tertidur. Oke, kembali saya jejalkan headset putih ini ke telinga lalu memutar musik yang tepat untuk liburan musim panas.

***

Pengeras suara kapal berbunyi dengan nada khasnya. Para penumpang yang didominasi bule mulai terbangun dan menyadari daratan telah tampak di depan mata. Butuh waktu sekitar lima hingga sepuluh menit bagi feri kecil ini untuk bersandar di dermaga. Kami pun siap dengan bawaan seabrek kami.

Satu per satu truk pengangkut sembako keluar dari kapal. Para penumpang berjalan beriringan sembari menghirup bersihnya udara Karimun Jawa. Di dermaga sudah ada puluhan warga lokal yang menyambut kami. Mereka umumnya adalah para pengelola homestay yang memang biasa menjemput tamu mereka langsung dari pelabuhan menggunakan mobil atau motor, menuju homestay. Nah, penyambutan ini tampak meriah ketika penduduk lokal menyambut dengan hangat penuh sumringah. Serasa saya adalah pengungsi dari Jawa yang berhasil selamat kabur ke Karimun Jawa karena pulau padat di selatan itu terkena wabah mematikan, aelah!

Kapal Siginjai tiba di Pelabuhan Penyeberangan Karimun Jawa

Dari pelabuhan, jernihnya laut sudah menyapa. Warnanya toska dan kebiruan bervariasi tergantung kedalaman juga dasar lautnya. Sebuah kapal nelayan tampak karam dengan posisi terikat ke dermaga, pecah mungkin karena hantaman ombak buruk. Kami berjalan beriringan menuju wilayah ‘pusat kota’ Karimun Jawa.

Karimun Jawa sejatinya merupakan pulau sekaligus kota kecamatan. Di kota dengan penduduk yang tampaknya saling mengenal ini, Karimun Jawa dilengkapi dengan puskesmas, polsek, layanan internet kecamatan, hingga kantor pos. Jalanan terlihat lengang karena hanya sedikit warga yang memiliki mobil di pulau kecil ini.

Usai berjalan selama sepuluh menit, kami tiba di homestay kami: Firzah Homestay. Semula kami mengira homestay ini diakses melalui pintu depan dengan ukiran khas Jepara di bingkainya. “Dek, yang dari Jogja ya?” seorang wanita kepala tiga menyapa kami. “Masuknya lewat sini,” beliau memandu kami ke kamar yang sudah dipesan. Kamar 13 dan 14 masih kosong. Akhirnya diskusi singkat kami jatuh pada pilihan kamar 14.

Nyaman, strategis, dan santai

Firzah homestay rupanya tidak sesederhana yang saya bayangkan. Dalam paket yang kami ambil seharga Rp. 175.000/hari ini sudah termasuk kamar ber-kipas angin dengan dua kasur yang muat 4 orang, kamar mandi ber-showercoffee and tea break sepuasnya, teve, WiFi, snorkel, kaki katak, pelampung, dan tentunya pelayanan ramah dari pengelola.

Kami meletakkan barang, merebahkan badan di bangku-bangku taman. Teriknya siang membuat duduk-duduk di bawah payung terasa hangat. Tubuh yang sudah 24 jam lebih belum dimandikan ini pun segera memasuki kamar mandi.

***

Mandi selesai. Saatnya memulai eksplorasi Karimun Jawa. Berhubung gaya traveling kami adalah backpacking, jadi kami akan menghemat pengeluaran sebisa mungkin. Akan tetapi, untuk transportasi hari pertama ini kami membutuhkan sepeda motor untuk menjelajahi pulau yang rupanya seluas Jogjakarta dalam ringroad ini. “Motornya tiga ini mbak Hilda,” ujar pengelola. Dengan baiknya pengelola telah memesankan kami motor sehingga kami tidak perlu ribet mencari tempat penyewaan motor.

Tiga buah motor matik tersedia di taman. Ada Vario, Mio J, dan Beat. Ketiganya siap digunakan dengan tangki bensin setengah terisi. Semoga awet hingga kami puas menjelajah nanti.

Sebelumnya, karena energi sudah habis selama di kapal, waktunya mencari makan.

“Tadi ada warung angkringan buka nggak jauh dari SPBU,” kami berlima segera kesana. Rupanya, warung tersebut tidak menjual nasi.

“Kalo mau makan nasi yang murah ada di Bu Esther dek,” kami segera berlalu dan menuju tempat yang diberinama ‘Bu Esther’ ini. Karena keterbatasan sinyal dari operator telekomunikasi, kami bertanya kesana-kemari. Katanya sih di dekat alun-alun kecamatan, sebelah selatan. Duh, tampaknya saya buta arah selama di pulau ini.

Sebuah warung makan yang baru saja ditinggalkan bule kami sambangi, “Tapi nama rumah makannya bukan Bu Esther. Gimana?” Lanjut.

Dari beberapa menu yang ada, saya menyantap terong balado yang notabene favorit saya. Di rumah makan, kami tidak banyak berbincang karena dikejar waktu untuk ke tempat selanjutnya: Bukit Love. Begitu menuju kasir, “Semuanya dua belas ribu.” Alamak, mahal bener meskipun masih terjangkau. Segera saya bayar lalu keluar dari rumah makan.

Biasanya, rekan saya Bowo suka sekali meributkan soal harga makan. Wajar juga sih karena dia paling banyak ambil lauk, “Masa gue abis 15 ribu coba?” Sebenarnya saya juga ingin menggerutu. Berhubung obrolan kami berlangsung di depan warung, rasanya tidak enak untuk menggurutu langsung di sini.

***

 

Ketiga motor ini melaju dengan santainya menuju tempat yang diberinama Bukit Love. Menurut peta Google Maps yang kebetulan sudah saya unduh luring, Bukit Love berjarak satu setengah kilometer saja. Jalanan naik turun, mulus, dan sepi membuat saya betah berkendara meski kulit dibakar sengatan matahari. Untuk mencapai Bukit Love, kami berbelok ke jalan kecil menanjak. Begitu tiba di lokasi yang dimaksud, rupanya tempat tujuan kami zonk. Bukit Love yang digembar-gemborkan di Instagram tidak seindah ekspektasi kami. Tempat ini masih berupa proyek pembuatan dekorasi ala-ala anak alay dan berantakan.

Dari belakang, seorang tukang parkir mendatangi kami yang sudah berencana ingin putar balik. “Kan sudah masuk kawasan ini mas, jadi masing-masing bayar 10 ribu.” Ebuset, untuk sebuah tempat yang masih banyak timbunan material kami tetap kudu bayar. “Ini tiket bisa dipakai kapan saja selama masih di pulau ini kok mas. Jadi kalau besok masih di Karimun, bisa masuk kesini dengan tiket kemarin.” Mungkin tukang parkir ini berusaha menghibur kami yang terlanjur kecewa. “Tiket ini juga sudah termasuk voucher 10% pembelian pernak-pernik dari toko ini,” maaf mas, enggak minat beli apa-apa. Ya sudahlah, apa boleh buat. Karena rupiah ungu terlanjur keluar, kami turun dari motor lalu berkeliling tempat ini.

Di tempat ini ada dua warung yang dibangun dari kayu: warung oleh-oleh cinderamata, juga warung makan. Untuk warung makan, di atapnya terdapat kursi dengan view langsung ke laut barat pulau Karimun Jawa. Jadi, cocoknya untuk menyambangi tempat ini di sore hari. Tak hanya itu, dari puncak Bukit Love ini terlihat kota kecil Karimun dengan puluhan kapal yang bersandar di dermaga. Pulau-pulau tetangga tampak dekat, namun kerdil.

Objek populer dari Bukit Love adalah tulisan tiga dimensi bertuliskan Ka-Ri-Mun Jawa yang epik, juga tulisan L0ve. Sayangnya tulisan L0ve terletak kurang tinggi sehingga latarnya masih tertutup pepohonan di belakangnya.

Duo pulau Menjangan dari Bukit Love

Tak banyak yang kami lakukan di tempat ini selain memfoto latar. Tidak ada satu pun dari kami yang berminat foto, “Mendingan nanti sore kita kesini lagi aja. Sekalian toh sejalan sama arah balik.” Usul saya diterima, kami bergegas menuju tempat berikutnya.

… bersambung ke bagian 3, sabar ya 🙂